Langsung ke konten utama

Jomblo Nikung

Ke kamu aku nggak bisa bilang. Kalau aku mencintaimu. Tapi aku bilang ke semua orang yang kukenal siapa tau dia kenal kamu. Terus bilang kalau aku pernah begitu amat mencintaimu. Atau jangan jangan kamu sudah tahu. Ah apa peduliku. Kata Dilan, aku mencintaimu itu urusanku, bagaimana kamu ke aku itu urusanmu. Kau tau pujaan hatiku---yang tak tau aku memujamu---aku sedang sendiri di sini. Meresapi sunyi. Mencoba bertelepati denganmu. Berharap kamu dengar pas aku bilang, aku rindu kamu.

Hai Saka...
Ini aku setelah tak berdaya mencintaimu. Kamu pernah bilang kalau semua perhatian kecil itu akan kurindukan. Dan kamu pun benar. Hari ini aku tengah menyeruput secangkir coklat panas, diiringi kokok ayam tetangga. Tiba-tiba melihat kelebat angin yang membawa hujan sebagai kau. Ah, andai kau tau setiap saat aku merasa terintimidasi olehmu. Bagaimana kau tiba-tiba hadir dan dengan manja menggelayuti hatiku. Aku terintimidasi setiap kali bertemu denganmu meskipun tak sengaja. Kau tau kenapa? Karena hatiku tak mau menuruti perintahku untuk berhenti berdebar. Karena aku digetari gugup yang luar biasa hingga tak mampu menyapamu. Keadaan ini tak kudramatisir sama sekali. Ini serius. Betapa aku gagu dihadapanmu.

Aku menghela napas panjang. Bilang pada diriku sendiri, bertahan mencintaimu dalam diam itu berat. Sama beratnya bagiku untuk kemudian melupakanmu. Aku tidak pernah bisa mengatakannya dengan tepat. Apa yang ku mau darimu. Tak usah risau. Aku tak akan minta perhatian dari kau. Aku hanya butuh ruang untuk merangkaimu dalam kataku. Lalu kau menutup kuping. Kata tidak penting, kau pernah bilang. Tapi bagiku itu berharga. Sama berharganya ketika ku dengar kau bilang dengan kata, aku merindukanmu.
Lalu kubalas dalam hati. Biar aku saja yang dengar. Aku merindukanmu seribu kali lebih.

Entah kenapa cokelat panasku tiba-tiba habis. Padahal belum kuminum banyak. Mungkin si semut ikut minum tadi. Aku beranjak. Ingin nyuci baju. Sambil berharap siapa tau di masa depan aku yang akan menyucikan bajumu. Ah, tapi jangan. Biar mesin saja yang cuci. Entar kau kira aku pembantu.

Ku rendam baju-baju kotorku dalam bak besar. Kemudian teringat peristiwa tiga tahun lalu. Saat kita basah kuyup, karena terciprat air dipinggir jalan yang di tabrak mobil. Kau marah kala itu. Dan aku tertawa. Aku tahu suasana hatimu sedang tak baik. Kau bilang habis diputus oleh Ike. Kau menangis meski tanpa air mata. Dan aku bahagia meski tanpa ketawa. Maaf aku tak menyepakati kesedihanmu. Aku begitu bahagia, karena kepemilikanmu telah kembali kepada orang tua dan Allah saja. Atau mungkin aku di masa yang akan datang.

Aku tidak setuju jika jatuh cinta butuh SIM(Surat Izin Mencintai). Kau tau kenapa? Kasihan orang-orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan (termasuk aku). Bagaimanalah mereka bisa merasakan nikmatnya mencintai. Kalau jatuh cinta saja tak diizinkan. Aku menghormatimu. Tapi ku rasa mencintaimu tak butuh izin darimu. Kau tidak suka. Pergilah tak apa. Tapi mataku tetap memandang ke arahmu.

Sebenarnya cinta, bukan perkara saling. Bahkan jika cuma aku saja yang cinta, dan kau tidak. Itu tetap cinta. Kau tidak percaya? Banyak juga yang bilang begitu. Tapi aku kekeh bilang itu cinta. Biar enak ngomongnya ke orang. Kalau ada yang bertanya 'Apa kamu pernah merasakan cinta?' Ku jawab saja pernah, yang tanya nggak perlu tau kalau itu cuma cinta sebelah tangan. Nanti dia menangis. Sedih. Karena ternyata dia juga.

Kupandangi lagi cucianku. Ternyata sudah bersih. Tanganku tanpa ku perintah nyuci sendiri. Kayak hatiku yang otomatis deg-degan tiap lihat kamu. Awas kalau Maya dengar, dia bisa bilang, gombalan amoh. Tapi Maya mengertilah. Aku tidak sedang menggombal. Tapi begitulah adanya. Tanyakan sama si Rafatar pas ketemu Gempi, serasa mau pingsan katanya. Tahu kenapa? Karena Gempi lagi pake baju suster ngesot.

Lalu ku angkat ember cucianku ke halaman. Mau ku jemur biar kering. Ku kibaskan satu persatu baju yang basah kemudian ku pasangkan pada hanger. Dan akhirnya selesai. Ku bawa lagi emberku masuk. Lalu aku duduk lagi di depan cangkirku yang sudah kosong tadi (kini cangkirnya tinggal separo karena di jilat kucingku, Chiko). Lagi. Masih diiringi kokok ayam tetangga. Makin siang makin rame, ditambah suara hilir mudik motor di jalan depan rumah. Aduh siapa saja di luar sana tolong aku. Aku sedang melamun. Pak polisi tolong. Aku sakau karena kecanduan merindukanmu.

 Jangan diabetes setelah baca ini. Karena isinya yang manis-manis semua. Atau jangan muntah, karena aku terlalu bau sinar matahari. Aku jadi ingat kisahnya si Maya dan Si Bolot, mereka bukan sepasang kekasih. Tapi ku bilang mereka jomblo berpasangan yang nggak sadar kalau mereka jomblo. Atau kisahnya si Ratu yang katanya mau dilamar setelah UN SMA padahal jelas-jelas dia jomblo menahun. Atau ini kisahnya si Setiani yang setia menunggu orang yang nggak datang. Ahh.. malu aku membicarakan mereka. Jelas-jelas tingkat jomblonya sudah di atas rata-rata. Bayangkan 'Jomblo Berpasangan' lo ini. Bukan main!
Hei kamu. Iya kamu, Saka. Barang kali lagi baca. Kapan kamu sadarnya. Sadar dari kenyataan, kalau yang kamu cari ya aku (aamiin.. Semoga Allah berkenan mengabulkan).

Ah, jangan deh. Nggak jadi. Jangan sadar dulu, aku malu. Tau kenapa? Karena kamu belum mencintaiku. Nanti saja ya, kalau sudah cinta bilang. Terus ku bilang ke kamu, aku juga cinta. Tapi bukan ke kamu, ke sahabatmu.harum.ika.hip@gmail.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpulang pada Cinta yang Hakiki

Jika aku bertanya pada diriku tiga tahun lalu, hal apakah yang paling disukai dari dirinya. Kurasa ia akan mengabiskan waktu satu malam atau bahkan sepekan untuk berkontemplasi mencari-cari secuil hal yang bisa dibanggakan. Hanya untuk kembali disanggah oleh bagian dari dirinya yang lain. Hampir genap satu tahun lalu, diri yang itu ditelan oleh rasa ragu-ragunya sendiri. Hilang arah. Mati dalam kesepian, diliputi mendung yang tidak berkesudahan. Aku sendiri tidak tahu, apakah ia mati lalu tumbuh sebagai benih baru, atau ia belum benar-benar mati lalu hidup kembali. Seperti pasir pantai yang didera ombak, menghapus jejak-jejak yang sia-sia itu ke permulaan: ketiadaan. Satu bulan lalu, atau rasa-rasanya sudah lebih, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak ke kebenaran diri. Penemuan kembali ‘rasa’. Dari aku yang sejak dibangku kuliah mati rasa. Bertahun sejak hari mati rasa hingga satu bulan lalu. Aku ‘merantau’ mencari kembali sesuatu yang hilang itu. Apakah ia terletak di b...

Pascacinta

Pasca mencintaimu, aku ingin memperkenalkan diri dengan benar dan sepantasnya.... Bukan hanya kepadamu, tapi juga kepada dunia.... Wahai hidup dan kehidupan! Perkenalkan namaku Rumik. Manusia biasa. Jenis kelamin: bukan jantan. Tinggi kurang dari 150 cm. Setelah melalui perebusan hidup kupikir aku adalah makhluk betina yang ceria. Aku adalah abstrak yang akan sulit dijelaskan. Sifatku sangat impulsif, siapapun tidak dapat menebak pergerakanku. Semua tindakanku tidak didasarkan pada logika, murni pencerahan dari hati. Logika adalah baju seragam yang digunakan hampir semua manusia dibumi. Aku tidak suka menyeragamkan diri. Aku lebih suka memilih warnaku sendiri. Aku pemberontak sejati. Tidak suka aturan, tapi sangat menikmati keteraturan.  Kemarin dalam episode hidupku yang kuberi judul ‘ Perihal Cinta ’, aku dengan angkuh melepas baju cinta tanpa berpikir panjang. Bahwa mungkin sebagian besar pembacaku akan lari, karena yang mereka nantikan adalah romantisme cinta da...

Uret

  Pada suatu sore yang sendu, badannya yang renta tergeletak tak berdaya. Separuh tubuhnya mati. Meski obat dari dokter sudah di minum dua kali badannya belum pulih lagi. Datang si sulung, sepulang kerja menghadap, duduk di sampingnya dengan lembut menanggapi, “Pak, bapak, apa yang menjadi beban pikirmu, hingga darah tinggimu kumat begitu?” Ia mengulum senyum. “Mikir apa, Nduk. Memang darah tingginya sedang kumat saja.” Mbah Sono menutup kalimatnya dengan sesimpul senyum. Di balik sesimpul senyum itu pikirannya terbang ke masa lalu. ***             Ia hidup di daerah sekitar Solo Raya, Wonogiri tepatnya. Istrinya sehari-hari berjualan di pasar, sedangkan ia sendiri menggarap ladang yang luas dan hasil panennya tak seberapa. Di daerah ini, sudah menjadi hal umum bila perekonomian digerakkan kaum perempuan, sebab merekalah tulang punggung utama. Hasil dari berjualan nasi di pasar itu lebih banyak menghasilkan uang ketimbang...