Apa yang paling
menentukan dalam sebuah pendidikan. Bukan. Apa yang menjadi ujung tombak dari
sekolah yang setiap hari kita kunjungi. Bapak bilang ia adalah guru. Sebuah
buku berjalan yang akan memberimu wawasan. Pertanyaannya guru seperti apa yang
kita butuhkan?
***
Namaku Lea. Usiaku 17. Anak kelas
tiga. Jurusan bahasa. Dalam waktu sehari hidupku yang biasa menjadi luar biasa.
Nyatanya hidup memang suka ngajak bercanda. Dengan cara yang tidak lucu.
Hidupku berubah haluan seratus delapanpuluh derajat ketika bapak meninggal.
Sesuatu yang tak pernah masuk daftar rencana. Kematian bapak. Seperti kejatuhan
meteor. Hidupku berantakan. Tidak ada bapak, tidak ada penghasilan. Tidak ada
uang, tidak ada biaya kuliah. Seketika semua perjalanan menuju tempat yang
sama. Bekerja. Pendidikan adalah sebuah kemewahan yang tak kan sanggup kami
beli.
Lupakan tentang drama kehidupanku.
Aku tidak akan bicara masalah ekonomi. Karena aku bukan anak IPS. Atau masalah
hati. Tentang rasanya kehilangan. Karena menjawab tanya tentang hilang adalah
dengan menjadi ikhlas. Itu yang dikatakan Ali, sahabatku.
Ini tentang sosok kedua. Pengganti
bapak. Bukan. Lebih tepatnya pengisi posisi bapak saat ini. Karena Bapak
tak’kan pernah terganti. Ini tentang kisah sederhanaku di putih abu-abu setahun
yang lalu.
Dan dear diary...
Berawal dari siang itu. Saat seorang
guru datang memanggilku ditengah pelajaran agama. Langkahnya tenang dan pasti.
Menghampiriku. Memberiku sebuah tawaran yang sulit ku tolak.
Dan disinilah aku. Berjalan terseok
mengikuti langkah Pak Teguh yang super cepat.
“Gini ya, speednya tolong ditambah. Orang Jerman itu kalau ngapa-ngapain
cepet dan tepat waktu,” katanya dengan intonasi tegas.
Aku dan Tina waktu itu hanya saling menatap.
Heran. “Dan ini materi olimpiade sudah saya kopikan. Nanti kalian kerjakan di rumah.
Kita ketemu besok pulang sekolah. Kita bahas. Oke?”
“Iya, Pak!” jawabku kompak dengan
Tina. Kami bersiap beranjak.
“Eh.. dan satu lagi. Saya tidak cari
seorang partisipan lomba. Kalau kalian benar-benar minat, target kita minimal
juara 3. Bagaimana?” tanya Pak Teguh lagi. Aku menatap Tina sekilas. Kemudian
mengangguk gamang.
Saat itu rasanya seperti ada beban
baru dipundakku. Aku menuruni tangga kantor dengan terburu. Setiba di kelas,
Ali dan Aisha telah menungguku. Lebih tepatnya menunggu penjelasanku. “Gimana
Lea?” tanya Aisha tidak sabar. Aku hanya memberikan buku besar super tebal itu
pada Aisha. Ali yang mengerti maksudku tersenyum, “Semangat Lea!” seraya menepuk
pundakku. Kebiasaan lamanya untuk menyemangatiku.
“Berarti kamu jadi bimbingan sama
Pak Teguh. Yang itu, yang nyobek kertas ulangannya Atha karena ketahuan
nyontek? Bertiga doang?” Aisha menatapku dengan mata membulat. Tidak percaya.
Esok harinya, pelajaran pertama kami
bahasa Jerman. Membahas tentang akkusativ.
Seperti biasa kami menjawab soal dan Pak Teguh akan membahasnya. Yang paling
kuingat selain pelajarannya adalah nasihat beliau. Selain, dikenal sebagai guru
yang nyleneh. Dan suka memprotes kebijakan sekolah yang kurang pas. Pak Teguh
sering memberikan motivasi lewat pengalaman hidupnya.
“Saya heran sama anak sekarang.
Menyontek itu sudah seperti budaya. Saya cah
tidak pernah menyontek. Bukan semata karena saya pinter. Ini tentang
prinsip. Coba kalau setiap mengerjakan ulangan, kalian jujur. Nggak nyontek.
Nanti kalau kelas tiga nggak akan kesulitan milih jurusan. Lihat saja rapot.
Nilai yang paling bagus apa? Disitu lo potensi kalian.”
Sore harinya, saat anak-anak lain
bersorak sorai pulang. Aku dan Tina harus tinggal di kelas. Ada tambahan jam
untuk latihan olimpiade. Sekitar kurang lebih dua jam. Bayangkan dalam waktu
dua jam kami membahas kurang lebih duabelas halaman soal ditambah beberapa
materi yang belum diajarkan. Dan aku baru sadar bahasa Jerman lebih rumit dari
yang kukira. Pertemuan kami diadakan duakali seminggu. Pertemuan kali itu
ditutup dengan pertanyaan Pak Teguh, “Gimana? Masih mau lanjut? Saya tidak akan
memaksa.”
Aku tersenyum.
Sekolahku berjalan seperti biasa.
Begitu juga jadwal latihanku dengan Pak Teguh. Pak Teguh memang sengaja
mengadakan tambahan jam setelah pulang sekolah. Karena tidak ingin mengganggu
jam pelajaranku dan Tina. Itu poin penting kedua dari Pak Teguh. Ia sering
berkata, “Kalian ke sekolah ini mau ngapain? Mau sekolah atau ekstra. Saya
heran tiap ada anak kok izin tidak mengikuti pelajaran karena ada kegitan
ekstra. Kemudian setelah pelajaran tertinggal. Nilai ulangan jelek. Datang
menemui saya minta nilainya dinaikkan. Karena alasan ini dan itu. Lo saya kok
ditawar. Kecuali kalau kalian tidak ikut pelajaran, kemudian menang olimpiade
matematika se-Jateng saya nggak akan ragu-ragu buat menaikkan nilai.”
Disisi lain jam tambahanku terus
berlangsung. Kami bahkan telah menjamah materi kelas tiga. Setiap hari latihan
soal bertambah sulit. Dan setiap hari pula kesangsian hinggap di dadaku.
Pertanyaannya sederhana, apa mungkin aku bisa melewatinya.
Dibalik sekolah dan jam tambahan
itu. Yang tengah mengganggu pikiranku adalah tujuan rentetan pendidikanku ini.
Kemana akan kubawa. Nasibku mungkin akan serupa dengan tetanggaku Mbak Isti
atau Reni. Menjadi pelayan di toko Semar atau Titoti.
Pagi yang sempurna. Ketika kutatap
mentari bersinar terang menerangi semesta. “Rasanya larik-larik sinarnya
seperti bisa menembus tubuhku, Lea!” kata Ali antusias. Aku menatap ke arahnya
tersenyum. “Gimana olimpiade Jermannya jadi?” tanya Ali kemudian. “Hm..”
Hari
ini ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Pak Teguh.
Jam pelajaran pertama Bahasa
Indonesia. Oleh Bu Ani. Guru satu ini juga punya pembawaan yang khas. Materi
yang kami bahas tentang cerpen. Begitu jam pelajaran usai kami diberi tugas
untuk membuat cerpen. Dikumpulkan pertemuan berikutnya.
Jam ketiga empat, Sejarah. Gurunya
tidak datang hanya memberi tugas. Dan kawan-kawan lain justru sibuk bolak-balik
kantin-kelas. Membeli snack pelengkap
ngrumpi berjamaah. Setiap jam pelajaran yang berlalu membuatku semakin gugup.
Dung
ding dung... Jam pelajaran telah berakhir...
Akhirnya bel pulang sekolah yang
ditunggu bernyanyi.
Hatiku dag dig dug menunggu Pak
Teguh datang. Ia tidak pernah datang terlambat saat mengajar. Kalaupun iya,
pasti beliau punya alasan tersendiri. Yang lebih masuk akal dari pada sarapan
di kantin atau ada kerjaan lain. Karena baginya tugas utama guru adalah
mengajar. Titik.
Dan benar suara langkah kakinya
bergema di koridor kelas. Bisa kubayangkan beliau tengah melangkah ke kelas.
Dengan tas cangklong putih yang talinya hampir putus. Tas ini punya history tersendiri ketika ditanya, mengapa tidak ganti dengan tas lain yang
lebih bagus? Jawabanya simpel, “Tas ini saya dapat dari olimpiade bahasa
Jerman untuk Guru. Yang saat itu bisa membawa saya sampai ke Jerman.”
Ada banyak soal yang berhasil kami,
aku dan Tina jawab kali ini. Meskipun sering tersendat. Sesi tambahan hampir
berakhir dan Pak Teguh memberi izin kami untuk beristirahat sejenak.
Aku mulai gelisah. Ingin bertanya
tapi takut. Aku berhitung dengan waktu. Kulirik jam yang terus berdetik. Ah,
tidak ada salahnya mencoba.
Aku mengacungkan jari, “Pak,” Pak
Teguh menatapku melempar pertanyaan lewat mata, ada apa? Aku menghela napas. Berusaha untuk tidak gugup. “Menurut
Bapak saya mampu nggak lanjut olimpiade? Karena untuk sekedar jawab soal-soal
ini saja saya masih kesulitan.” Tuturku akhirnya.
“Tidak.” Jawabnya mantap. Dan itu
juga yang kurasakan. Jam tambahan beberapa minggu ini rasanya membebaniku.
Membuatku merasa tidak nyaman.
“Kamu mungkin penasaran kenapa kakak
kelasmu dulu bisa sampai juara. Yah, karena dia saya ajar dari kelas satu. Jadi
tau apa saya yang mau. Bagaimana cara saya mengajar. Tapi kita baru bertemu
kelas dua ini. Dan ya itu yang membuat perbedaan.”
Aku tersenyum. Mengangguk. Merasa
lega. Rasanya beban-beban berat itu terangkat dari pundakku. “Tapi jangan
berkecil hati. Tidak bisa ikut olimpiade ini bukan akhir dunia. Lea kamu punya
bakat. Saya bilang kamu pinter ya, hanya saja kurang teliti terkadang. Dan kamu
itu ‘maju tak gentar membela yang bayar’ seperti saya.” Pukas beliau dengan
tersenyum.
“Dan Tina. Kamu juga good ya. Kamu itu tipe orang yang ‘alon-alon penting kelakon’ teliti
sebenarnya. Dan kalian bisa jadi tidak ikut olimpiade ini. Tapi masih ada
banyak kesempatan. Saya yakin kok nanti kalau ujian nasional nilai kalian pasti
bagus.”
***
Jam enam pagi. Saat semilir angin
membawa kerinduan malam. Dingin tapi menyegarkan. Aku berdiri di atas jembatan.
Menunggu Ali.
Di ujung timur sana. Mentari telah
beranjak meninggalkan kaki langit. Bertengger anggun memamerkan kilau emasnya.
Aku menghirup napas. Segar. Di kejauhan sana kudengar langkah cepat Ali. Tak
berirama seperti biasanya. Ia pasti tengah berlari.
Ia
berdiri di sampingku, masih terenggah. “Pagi, Lea!” sapanya kemudian.
“Pagi, Ali! Kamu telat 15 detik dari
biasanya,” kataku manyun. “Al, menurut kamu saya bisa lanjut kuliah?” tanyaku
membuka percakapan.
“Tergantung.” Matanya menatap jauh.
Aku melempar tanya lewat tatapan mata, maksudnya.
“Tergantung dari keinginan kamu untuk sekolah. Menjadi hebat itu bukan perkara
takdir, itu jalan yang kamu pilih.”
“Dan?”
“Dan cuma ada dua pilihan, mau jalan
terus menatap masa depan atau berhenti.”
Aku kembali menatap aliran sungai.
Menghela napas. “Kamu ingat cerita Pak Teguh? Tentang bagaimana Pak Teguh
akhirnya bisa berkuliah.”
Bagaimana aku bisa melupakan cerita
hebat itu. Dari awal bahkan Pak Teguh telah memberikan jawabannya. Tentang
pertanyaanku. Sebuah kisah hebat.
***
Aku
dan Ali terlambat sampai sekolah pagi itu. Dan karena pelajaran pertama kami
Bahasa Jerman. Kami tidak diizinkan masuk. Kesepakatan bersama yang kami buat.
Tapi aku tidak kesal. Aku sedang dalam mood terbaik pagi ini. Sumber
kegelisahanku telah terangkat.
Dua
jam kemudian Pak Teguh keluar. Dengan langkahnya yang khas. Tersenyum padaku
dan Ali.
Ada
banyak sekali jenis guru di dunia ini. Ada yang mengajar setulus hati, ada yang
hanya sekedar memenuhi tuntutan profesi. Ada pula yang hanya memakan gaji buta.
Sering ditinggal, main kasih tugas ini, itu. Aku berharap diluar sana. Masih ada Pak
Teguh-Pak Teguh lain yang mengajar dengan setulus hati. Bukan hanya memberi
ilmu mengenai bidang yang dikuasai. Tapi juga mau berbagi pengalaman.
Namanya
Pak Teguh. Guru bahasa Jermanku. Tanyakan apa saja. Dan ia tidak akan segan
menjawab. Membagikan semua yang ia tahu. Dan dia guru inspirasiku.
Nangis bacanya rum😢
BalasHapusMakasih Ratu😄 semoga sampai di hati..😊
Hapus