Langsung ke konten utama

Patah Hati

Pernah suatu ketika kamu bilang, "Cinta itu datangnya dari hati, Dit. Nggak bisa dipaksa. Bukan sekedar karena fisik apalagi materi." Aku hanya tersenyum. Tidak berkomentar. Aku tahu kamu sedang membela diri. Membenarkan tindakanmu yang baru saja menolak cinta Dito.

"Dan kadang cinta yang datangnya dari hati juga bikin kita sulit melepaskan. Bahkan meskipun nggak ada lagi yang bisa kita genggam." Kamu kembali membela diri. Bahwa kepergian Alan tidak serta merta membuat cintamu ikut pergi. Aku menyeruput cappucino pesananku. Uapnya sudah hilang, menyebar ke langit-langit tempat ini. Mencoba menjeda suasana yang serba canggung.

Sejak aku menyadari kekalahanku atasmu tahun lalu. Bukan hal mudah bagiku untuk memberi kamu nasihat tentang cinta. Mungkin aku yang seharusnya dinasihati. Bahwa pertemanan ini harus kembali ke asalnya. Tidak boleh dicampuradukkan dengan masalah hati. Tapi seperti yang kamu bilang. Cinta datang dari hati. Hadir tanpa pernah diminta. Muncul tanpa bisa disergah. Ada dengan sendirinya tanpa bisa aku khianati. Aku mencintaimu, Naaf.

Entah harus berapa kali lagi aku harus menahan lidah. Kelu. Gatal sekali rasanya, ingin  bilang "Naaf aku suka kamu." Aku merasa begitu munafik. Memanfaatkan persahabatan ini untuk terus bisa ada di sisimu. Padahal rasaku sudah lama berubah.

Kamu ikut menyeruput lemon tea kesukaanmu. Kamu suka aroma kopi, tapi tidak pernah bisa meminumnya. Kamu bilang tempat ini spesial, warung kopi yang tidak hanya jual kopi. Seru katamu tiap kali datang ke tempat ini, "Aroma kopinya kuat banget!" Kamu bilang, "Aroma kopi itu bisa menenangkan syaraf otak yang tegang. Hitung-hitung menenangkan pikiran."

Kamu meletakkan kembali cangkir tehmu. Menatap deretan kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Suasana ini membuat lidahku gatal untuk mengucap sesuatu.

***

Terkadang terlintas dibenakku keinginan untuk jujur saja pada Naaf. Tapi sisi lain diriku terlalu takut. Aku takut akan kehilangan cinta dan sahabat sekaligus. Sejak bapak ibu tak ada. Naaflah orang yang paling dekat denganku. Dia tahu aku. Hafal di luar kepala apa yang aku suka dan yang tidak.

Terkadang dia sama menakutkannya dengan almarhum ibu. Bisa membaca pikiranku. Mendeteksi segala perubahan sikap dan suasana hati. Kadang muncul prasangka, jangan-jangan dia juga sudah tahu aku jatuh cinta padanya. Tapi segera kutepis, selama aku belum berikrar dugaannya hanya akan jadi dugaan semata. Ia tak akan berbuat banyak. Kecuali satu hal, menghindariku. Dan nyatanya ia tak melakukan hal itu.

***

Pukul lima pagi. Kalau tidak salah. Aku baru bangun. Masih duduk di ranjang sambil mengucek mata. Mengumpulkan kesadaran. Lalu melihat jam dinding, lagi. Benar ini masih pukul lima pagi. Aku melihat ke arah lemariku. Ada kemeja hitam menggantung di sisi lemari. Benar, hari ini tepat tahun ketiga kematian bapak dan ibu. Tiga tahun lalu mereka tewas dalam kecelakaan. Aku segera bangkit. Melakukan ritual pagi hari.

Aku menatap cermin. Mematut diri. Kemaja hitam ini selalu kugunakan tiap tahun. Ada aura lain tiap kali ku kenakan. Sekali lagi aku menatap cermin. Menatap bayangan diriku sendiri. Tidak buruk, batinku. Tiga tahun lalu, kali pertama kukenakan kemaja ini masih kebesaran. Tentu saja, ini kemaja milik bapak. Dan sekarang setelah sekian tahun tak terasa sudah pas di badan. Berarti kini tubuhku sebesar bapak atau bahkan lebih besar.

Kamu sudah menunggu sambil menyiapkan sarapan. Meski aku tak pernah suka sarapan ketika hendak berziarah ke makam bapak dan ibu. Tapi kamu selalu memaksa.

Selesai sarapan aku lalu meluncur ke pemakaman. Diikuti kamu. Aku mulai membersihkan makam. Mencabuti satu dua rumput liar yang tumbuh. Menaruh seikat bunga diatas makam bapak dan ibu. Kemudian khusyuk berdoa.

"Besok peringatan kematian Alan," katamu ketika kami berjalan pulang. Matamu diam-diam mencuri pandang ke sebuah nisan. "Mau ziarah sekalian?" tanyaku menawarkan. Kamu buru-buru menggeleng. "Besok saja."

Lalu seharian itu kamu berubah murung. Aku tahu banyak hal bersileweran diotakmu. Segala kenang tentang Alan pasti menggelayuti hatimu. Membuatmu ingin memeluk tubuh seseorang yang bahkan aromanya tak lagi bisa kau cium. Aku tahu Alan pria yang baik. Sangat baik malah. Tapi fakta bahwa kamu begitu mencintainya. Hingga tak bisa melupakannya sedetikpun, meski ini sudah tahun kedua kepergiannya membuatku cemburu. Entah rasa itu menyelinap begitu saja. Aku tahu ini tak sepantasnya. Tapi aku bisa apa.

***

Maka sudah kutekadkan. Besok, di depan makam Alan akan kuutarakan isi hatiku pada Naaf. Biar dia tahu segalanya. Biar dia marah dan kecewa padaku. Aku tak lagi peduli. Aku tidak akan menyesali hal yang sudah kulakukan. Kalau ia tidak suka. Biar aku saja yang pergi. Ia tak perlu repot-repot menghindar dariku.

Tekadku sudah bulat. Dalam hidup ada hal-hal yang harus dilepaskan untuk tahu berapa erat ia melekat dalam diri kita. Ada hal-hal yang harus dilepaskan untuk bisa meraih sesuatu yang baru. Lagipula rasa ini menuntut tersampaikan. Aku tidak bisa menundanya lagi. Ia harus sampai pada Naaf esok pagi.

Maka setelah ziarah, aku buru-buru pergi. Meninggalkan Naaf yang seharian ini akan mengenang waktu indahnya dulu bersama Alan. Aku ingin menghibur diri. Sebelum masa-masa patah hati itu benar-benar datang. Aku ingin menghibur diri sambil menguatkan hati.

***

Aku tidak datang ke rumahmu. Aku sengaja langsung menuju makam Alan. Aku datang lebih awal. Berbicara pada Alan, "Aku akan mengutarakan isi hatiku pada pacarmu," kataku lirih sambil memegang nisannya. Aku berkhayal di alamnya sana Alan mengangguk. Memperbolehkannya. Katakan aku gila.

Tak lama, kamu datang dengan buket bunga besar di tangan. Aku tersenyum sekenanya. Mempersilakan kamu mendekati makam Alan. Kamu membelai nisannya. Membersihkan debu-debu yang menempel di atasnya. Mencabuti rumput liar. Mengirim doa. Lalu menangis sesenggukan. Aku melihat semuanya. Itu kebiasaanmu tiap kali datang ke makam ini. Yang selalu membuatku refleks menepuk-nepuk pundakmu. Menenangkan.

Meskipun dirundung duka. Kamu selalu menjaga diri dengan baik. Tak pernah membiarkan kepalamu bersandar di bahu pria manapun.

"Naaf," suaraku bergetar. Kamu masih menangis. Meskipun tak sehebat tadi. Punggungmu masih naik turun.  "Aku suka kamu," tangis Naaf berhenti seketika. Aku tak peduli. "Aku cinta kamu," kataku menatap ke arah lain. Aku tahu ia sekarang sedang menatapku dengan mata bulatnya.

"Aku tahu, kamu nggak mungkin melupakan Alan. Aku tahu aku mungkin nggak pernah ada di hati kamu sebagai orang spesial itu. Dan aku mungkin juga tahu jawaban kamu," Naaf memandangku dengan air mata yang kembali mengalir sambil mengangguk membenarkan kalimatku.

Aku menghela napas. Rasanya tetap berat. Dadaku terasa sesak. "Maaf, aku tahu situasi ini rumit," kataku lagi. Kamu menunduk. Dan kesunyian segera menyergap kami. Aku diam. Tak tahu harus mengatakan apa. Kamu menangis tanpa suara.

"Aku rasa kita nggak bisa ketemu lagi. Bukan apa-apa, ini demi..." aku menepuk pundaknya. Aku tahu. Kamu beringsut memelukku. Menyandarkan kepalamu di dadaku. Menangis sejadinya. Yang bisa kulakukan adalah mengelus kepalamu. Membiarkan hatiku sendiri terkoyak.

"Aku yang akan pergi. Kamu yang di sini," kataku kemudian.

Pagi itu kutunggu tangismu mereda. Lalu kutinggal. Air matamu masih berderai. Tapi aku tak bisa lagi berlama-lama di dekatmu. Membuat hatiku semakin teriris perih. Aku menangis tanpa air mata.

Hal yang kulakukan selanjutnya adalah berkemas. Dengan tanpa berpikir aku menerima tawaran atasanku untuk dipindahtugaskan ke Paris. Aku pulang dan berkemas-kemas. Besok aku akan terbang ke sana pagi-pagi sekali. Aku mengusap muka yang terasa kebas. Tidak ada waktu untuk patah hati.

***

Aku sudah di dalam pesawat. Lima menit lagi akan lepas landas. Aku tidak memberitahu Naaf kemana aku akan pergi.

Apakah kalian berpikir bahwa Naaf akhirnya berubah pikiran. Mengejarku ke bandara, menahanku untuk tidak pergi. Tidak. Ia bahkan tidak membalas pesanku ketika aku berpamitan akan pergi. Ya, aku bilang padanya bahwa aku akan pergi. Tapi aku tak memberitahunya kemana akan pergi.

Bahkan setelah sampai Paris pun Naaf tidak datang mencariku. Kisah kami berakhir hari itu. Tidak seperti drama murahan yang kalian lihat di tv. Kami benar-benar putus hubungan. Tidak saling memberi kabar. Tidak saling berkirim surat.

Apakah dengan demikian kami saling membenci. Tidak. Aku selalu mendoakan kebaikan untuk Naaf. Dan aku yakin Naaf juga begitu. Kami saling menghormati keputusan masing-masing. Justru menurutku Naaf berusaha bijaksana dengan tidak membalas pesan dan berkirim surat. Ia wanita baik yang tidak akan dengan mudah memberi harapan palsu.

Naaf tahu satu hal yang kadang dilupakan oleh gadis-gadis di luar sana. Pertemanan kami akan lebih banyak mendatangkan keburukan daripada kebaikan jika terus dilanjutkan. Karena bagiku, Naaf tetaplah seorang wanita.

Aku sendiri? Aku masih patah hati. Belum bisa menerima kenyataan. Hatiku yang sekeping ini sedang terluka.

***

Aku kembali bekerja. Menjalani rutinitas seperti biasa. Bedanya hanya Paris terasa asing bagiku. Pulang larut malam. Mandi kemudian memeluk tubuh sendiri. Perlahan ingatan tentang Naaf mulai pudar. Meski kadang ada masanya ketika ia justru mengetuk sela hati tanpa ampun. Aku di dera rindu.

Setahun, dua tahun berlalu....
Aku tidak tahu persis. Tapi kalau tidak salah ini tahun ketigaku hidup di Paris, tanpa pulang.

Hari ini hari Minggu. Aku jalan-jalan di danau dekat menara sambil menyeruput kopi panas. Di atas sana langit bersih, tanpa awan. Berwarna biru menyejukkan. Diam-diam tanpa diketahui orang-orang yang hilir mudik di sekitarku. Aku melarung seluruh kesedihan, aku melarung seluruh duka dan rasa sepiku. Sudah saatnya memulai hidup baru di sini.

Aku mendengar suara langkah orang mendekat dari belakang. Aku menunggu barangkali orang itu temanku di Paris ini. Atau hanya sekedar orang iseng. Aku tak tahu aku enggan menoleh. Langkah orang itu terhenti. Persis dibelakangku.

"Adit.." suaranya bergetar memanggilku. Aku seperti disengat ribuan lebah. Suara itu...


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Perayaan

  Ada seorang perempuan bernama Cantik. Dulu ketika lahir sang ibu menamainya cantik, supaya kelak jadi putri yang cantik. Tapi rupanya ketika menamai anaknya, sang ayah lupa mengaminkan doa tersebut. Cantik seorang perempuan yang pukul 20:20 malam ini akan genap berusia 22 tahun. Orang-orang tidak akan mengira gadis kecil yang tingginya semampai (baca: seratus lima puluh tak sampai ) itu sudah akan berkepala dua lebih dua. Kulitnya bersih tapi tidak putih, giginya tidak beraturan, ia terbiasa jalan dengan punggung sedikit bungkuk, tapi namanya tetap Cantik dan meski penampilan parasnya demikian orang-orang tetap memanggilnya Cantik. Di kerumunan orang kau akan mudah menemukannya, ia kecil dan berpakaian seperti orang dari sepuluh tahun lalu. Pakaiannya sama sekali tidak mengikut tren fashion kekinian.   Cantik mengaku bahwa diam-diam ia adalah orang yang rebel . Dari kecil ada banyak tuntutan dan komentar dari orang-orang di sekitarnya. Ketika ia memakai baju yang sama ke...

Surat Pengunduran Diri Mencintai

Teruntuk kau... Aku terbaring di kamar kecilku. Semua yang kurasa adalah pengap, gelap, dan sesak. Ini perihal 'kau' dan dia. Barangkali kau tak tahu bagaimana rasanya menunggu. Jika ada yang bilang cinta harus dikatakan. Itu benar. Dan aku sudah mengatakannya padamu. Kupikir kau penganut 'cinta dalam diam'. Maka tak apalah hubungan kita tetap seperti ini asal kita selalu dekat. Tapi ternyata kau lebih rumit dari fisika. Yang kuharap hanyalah sederhana. Aku bukan detektif hebat yang bisa membaca kode-kode cantik darimu. Aku juga bukan superhero yang selalu hebat dalam hal mencintaimu. Bukan pula orang sakti yang kebal dari patah hati. Aku hanya orang biasa, yang dengannya aku mencintaimu. Semua orang tahu itu, dan aku yakin kau juga. Aku masih ingat saat kau minta dibelikan ramen . Dan akupun datang ke rumahmu dengan membawa ramen kesukaanmu. Aku tidak bermaksud mengungkit-ungkit kejadian lalu. Tidak. Aku hanya ingin bilang. Hal-hal seperti itulah yang bisa kulak...

Berpulang pada Cinta yang Hakiki

Jika aku bertanya pada diriku tiga tahun lalu, hal apakah yang paling disukai dari dirinya. Kurasa ia akan mengabiskan waktu satu malam atau bahkan sepekan untuk berkontemplasi mencari-cari secuil hal yang bisa dibanggakan. Hanya untuk kembali disanggah oleh bagian dari dirinya yang lain. Hampir genap satu tahun lalu, diri yang itu ditelan oleh rasa ragu-ragunya sendiri. Hilang arah. Mati dalam kesepian, diliputi mendung yang tidak berkesudahan. Aku sendiri tidak tahu, apakah ia mati lalu tumbuh sebagai benih baru, atau ia belum benar-benar mati lalu hidup kembali. Seperti pasir pantai yang didera ombak, menghapus jejak-jejak yang sia-sia itu ke permulaan: ketiadaan. Satu bulan lalu, atau rasa-rasanya sudah lebih, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak ke kebenaran diri. Penemuan kembali ‘rasa’. Dari aku yang sejak dibangku kuliah mati rasa. Bertahun sejak hari mati rasa hingga satu bulan lalu. Aku ‘merantau’ mencari kembali sesuatu yang hilang itu. Apakah ia terletak di b...