Langsung ke konten utama

Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya

 Hai internet!!


Aku mau bilang hari ini busuk banget. Meskipun hari busuknya ga cuma hari ini aja, kalau kemarin-kemarin masih berusaha sabar, nrimo, dan putar otak nyari jalan keluar, tapi hari ini rasanya beneran meledak.


Nasib, nasib! Tidak tau kenapa, aku punya hubungan buruk sama yang namanya 'motor' dan rencana 'motoran'.


Hari ini rencanaku banyak. Bangun pagi, sarapan, beberes rumah, kelas, sehabis itu rencananya mau bikin SIM. Tapi ternyata tidak disesuai rencana, ngurus SIM-nya diundur karena satu dan lain hal. Rencana B, karena ngga jadi ngurus SIM akhirnya kualihkan untuk ngurus BPJS saja. Mumpung ada temennya plus kemarin juga sudah minta surat pengantar. Ehhh, sudah sibuk nyari surat-surat tinggal tchus berangkat, motornya ngadat tidak mau distarter.


Nasib juga punya badan kecil, aku tidak sanggup kalau harus ngengkel motor. 


Kan bisa naik transportasi umum atau pinjam motor tetangga? (Ada suara bisik-bisik).


Jauh sebelum kepikiran ke sana, aku sudah terlanjur mangkel.


Bagaimana tidak? Drama motor ini bahkan dimulai sejak aku belum punya motor.


Alkisah, dulu sebelum pandemi menyerang, aku punya niatan untuk beli motor, bekas tidak apa-apa yang penting surat-surat lengkap dan bisa dipakai. Bapak dan mamak setuju. Sudah bilang ke saudara yang katanya bisa dan mau mencarikan. Tapi hingga bulan ganti bulan tak ada kabar.


 Suatu ketika datanglah tetangga ke rumah menawarkan motor, katanya "Ini motornya si A mau dijual, harga segini, situ mau beli, ndak?". Setelah nego dan lain-lain, kesepakatan pun di buat. Nanti sore Bapak akan ke rumah yang punya motor langsung sekalian bayar.


Eh, (dasar persetan) siangnya malah di jual ke orang lain. Ketika bapakku sampai sana, itu motor sudah jadi milik orang lain, mau kekeh dibeli harganya dinaikkan. Memang sudah jadi nasib, hidup sebagai kalangan menengah ke bawah. Harga naik, kita mundur halus, uang tak sampai, motor tak jadi pakai.


Sudah, aku nrimo meski pahit. Akhirnya cari-cari lagi. Nemulah motor yang sekarang, harga murah karena motor tua, tapi mesin masih bagus. Di belilah.


Awal-awal pakai segalanya masih normal. Sampai suatu ketika perjalanan beli bensin belum sampai POM bensin, bensin sudah habis duluan. Kebiasaan buruk Bapakku yang tidak segera isi bensin saat isinya tinggal sedikit, akhirnya aku yang panen malapetakanya. Kudorong sampai mampus, tapi POM yang sebenernya sudah dekat terasa jauh sekali. Akhirnya aku telpon orang rumah, supaya diantar bensin cadangan.


Itu yang kali pertama. Kali keduanya, aku mengantar mamak ke pasar, di tengah jalan tiba-tiba motor mati, bensin aman, oli baru saja diganti. Ku starter tak nyala. Akhirnya mamak ku suruh lanjut naik bus saja. Ku akali segala macem, akhirnya motor nyala. Kulanjutkan pergi ke pasar. Pas perjalanan pulang, macet lagi. Beruntung macet dekat bengkel. Di bedahlah si motor. Ternyata kabel bensinnya bocor. Bayar, diganti sudah kabelnya.


Besoknya lagi, ketika perjalanan menjemput Mamak pulang kerja, aku berhenti di POM isi bensin. Ketika hendak distarter, macet lagi. Dengan malu-malu aku minta tolong mas-mas di POM untuk bantu menyalakan.


Sejak saat itu, motorku jadi tidak normal. Entah berapa kali, aku minta tolong orang asing untuk bantu menyalakan. Di bawa lagi ke bengkel, ganti apa, aku tak tahu. Bisa normal lagi. Karena sudah normal kupikir bisa lah ku bawa ke Solo dengan seorang teman. Janji dibuat, rencana sudah matang. Eh, H-1 motorku tak bisa distarter LAGI.


Sabaaaarrr, ada cara lain. 


Akhirnya aku pinjam motor bulikku, tapi kondisinya juga sedang tak prima. Akhirnya itu motor kuparkir di tempat aman. Perjalanan ke Solo tetap dilakukan sesuai rencana, pakai motor teman.


Setelah kejadian ini, motorku masuk bengkel lagi. Sepulang dari bengkel kondisi prima, starter oke. Lampu oke. Rem oke. 


Hari Minggu kemarin, kurencanakan lagi bertemu dengan teman di Kampus. Rencananya hari Rabu besok kita bertemu lepas kangen 2 tahun tak jumpa. Kemarin, aku bahkan wira-wiri ke puskesmas mengurus sesuatu. Motor masih oke. Hari ini, H-1 rencana ke kampus, dan tetek bengek lain yang mau kuurus, motor tak bisa distarter LAGI. Padahal baru seminggu lalu lulus dari bengkel.


Dan aku jengkel sendiri. Entah kepada siapa.

Lagi-lagi, nasib-nasib!


Kemarin kabel bensinnya bocor diperbaiki. Lampunya mati, diperbaiki. Tombol starternya rusak diperbaiki, kali ini mungkin gantian akinya yang soak. Dan aku yang kehabisan amunisi.


Nb: ternyata belajar sabar itu sulit.

#7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Perayaan

  Ada seorang perempuan bernama Cantik. Dulu ketika lahir sang ibu menamainya cantik, supaya kelak jadi putri yang cantik. Tapi rupanya ketika menamai anaknya, sang ayah lupa mengaminkan doa tersebut. Cantik seorang perempuan yang pukul 20:20 malam ini akan genap berusia 22 tahun. Orang-orang tidak akan mengira gadis kecil yang tingginya semampai (baca: seratus lima puluh tak sampai ) itu sudah akan berkepala dua lebih dua. Kulitnya bersih tapi tidak putih, giginya tidak beraturan, ia terbiasa jalan dengan punggung sedikit bungkuk, tapi namanya tetap Cantik dan meski penampilan parasnya demikian orang-orang tetap memanggilnya Cantik. Di kerumunan orang kau akan mudah menemukannya, ia kecil dan berpakaian seperti orang dari sepuluh tahun lalu. Pakaiannya sama sekali tidak mengikut tren fashion kekinian.   Cantik mengaku bahwa diam-diam ia adalah orang yang rebel . Dari kecil ada banyak tuntutan dan komentar dari orang-orang di sekitarnya. Ketika ia memakai baju yang sama ke...

Surat Pengunduran Diri Mencintai

Teruntuk kau... Aku terbaring di kamar kecilku. Semua yang kurasa adalah pengap, gelap, dan sesak. Ini perihal 'kau' dan dia. Barangkali kau tak tahu bagaimana rasanya menunggu. Jika ada yang bilang cinta harus dikatakan. Itu benar. Dan aku sudah mengatakannya padamu. Kupikir kau penganut 'cinta dalam diam'. Maka tak apalah hubungan kita tetap seperti ini asal kita selalu dekat. Tapi ternyata kau lebih rumit dari fisika. Yang kuharap hanyalah sederhana. Aku bukan detektif hebat yang bisa membaca kode-kode cantik darimu. Aku juga bukan superhero yang selalu hebat dalam hal mencintaimu. Bukan pula orang sakti yang kebal dari patah hati. Aku hanya orang biasa, yang dengannya aku mencintaimu. Semua orang tahu itu, dan aku yakin kau juga. Aku masih ingat saat kau minta dibelikan ramen . Dan akupun datang ke rumahmu dengan membawa ramen kesukaanmu. Aku tidak bermaksud mengungkit-ungkit kejadian lalu. Tidak. Aku hanya ingin bilang. Hal-hal seperti itulah yang bisa kulak...

Berpulang pada Cinta yang Hakiki

Jika aku bertanya pada diriku tiga tahun lalu, hal apakah yang paling disukai dari dirinya. Kurasa ia akan mengabiskan waktu satu malam atau bahkan sepekan untuk berkontemplasi mencari-cari secuil hal yang bisa dibanggakan. Hanya untuk kembali disanggah oleh bagian dari dirinya yang lain. Hampir genap satu tahun lalu, diri yang itu ditelan oleh rasa ragu-ragunya sendiri. Hilang arah. Mati dalam kesepian, diliputi mendung yang tidak berkesudahan. Aku sendiri tidak tahu, apakah ia mati lalu tumbuh sebagai benih baru, atau ia belum benar-benar mati lalu hidup kembali. Seperti pasir pantai yang didera ombak, menghapus jejak-jejak yang sia-sia itu ke permulaan: ketiadaan. Satu bulan lalu, atau rasa-rasanya sudah lebih, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak ke kebenaran diri. Penemuan kembali ‘rasa’. Dari aku yang sejak dibangku kuliah mati rasa. Bertahun sejak hari mati rasa hingga satu bulan lalu. Aku ‘merantau’ mencari kembali sesuatu yang hilang itu. Apakah ia terletak di b...