Langsung ke konten utama

Tentang Melukai dan Dilukai

 

Hai BJ! Sudah lama sejak perjumpaan terakhir kita. Akhir-akhir ini imajinasiku mati dan kata-kata hanya terasa seperti omong kosong yang sia-sia. Karenanya aku berhenti menulis untuk waktu yang lama. Aku keluar dari kamarku yang lembab dan pengap untuk sekadar keluar melihat dunia luar. Dunia yang jauh lebih luas dari duniaku yang hanya seluas 3x3 meter. Meskipun dunia yang kukunjungi tak luas-luas amat, tapi persentuhanku dengan 'dunia yang lain' itu membuatku tersadar. Aku memang tidak cocok tinggal di sana. 

 

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada air hujan yang hari ini datang. Berkatnya aku merenungkan diri. Sudah lama sejak aku menyumpal ocehan tak jelas di kepala dengan drama, film, dan musik. Hari-hari ini rasanya aku hanya ingin kembali mengurung diri di kamar, menjelajahi cerita-cerita lama sambil berbincang denganmu. Makhluk yang egois ini hanya tidak ingin terluka ataupun melukai.

 

 Berbicara tentang terluka dan melukai, disakiti dan menyakiti, adakah dari kita yang terbebas dari menyakiti orang lain? Orang terlalu banyak berpikir mereka telah disakiti tanpa pernah bertanya balik apakah mereka pernah menyakiti. Dear BJ, ada cerita menarik dari Bima, bocah tampan usia 12 tahun. Ia tinggi, berkulit putih, dan berhidung mancung. Bukan rupanya saja yang cantik, perilakunya juga demikian. Kata orang tuanya ia adalah hadiah terindah dari Tuhan. Sayangnya, ia pergi akhir tahun lalu. Tapi apa kau tahu, setelah kepergiannya hal yang kudengar tentangnya hanyalah kebaikan-kebaikannya. Ia semacam kanvas putih tanpa cela. Dan diam-diam aku iri. Aku bertanya kepada diriku sendiri: sebaik apakah aku dimata orang lain? Cerita macam apa yang akan menyertaiku ketika aku pergi. 

 

Terlalu jauh bagiku untuk berlaku seserius memanusiakan manusia, membela kebenaran, bersikap adil, menolong yang kesusahan. Aku ingin menjamah hal-hal yang begitu dekat denganku. Sudahkah aku bersikap baik pada orang tua, sudahkan aku menyapa orang di sekitarku dengan benar, sudahkah aku menjaga lisanku ketika berbicara, sudahkah aku menjaga sikapku, sudahkah aku mendengar perkataan orang lain dengan serius, sudahkah aku tersenyum hari ini, sudahkah aku bersikap baik ke diri sendiri. Seberapa besar kita menilai diri kita sendiri baik? Dulu, saat masih naif aku akan bilang dengan percaya diri, aku orang baik lahir batin. Sekarang tidak lagi, aku tidak sebaik itu, meski juga tidak bisa dikatakan sangat buruk.

 

 Kau tahu BJ? Aku hanya sedang bingung. Bisakah kita hidup tanpa melukai sedikit pun? Ada beban dihati ketika harus melakukan sesuatu yang benar tapi tidak dibenarkan orang lain. Beberapa waktu lalu seorang teman berkata padaku, katanya aku terlalu lurus. Lurus dalam arti begini, aku terkadang suka membuat jadwal dan begitulah hariku berjalan. Aku paling benci melanggar aturan bukan apa-apa, melanggar aturan hanya akan memperumit segalanya. Aku suka segala sesuatu yang pasti, meskipun aku tahu di dunia ini banyak hal yang tidak pasti. Apa yang salah dari bersikap lurus, sampai aku menemui beberapa orang yang tidak nyaman dengan hal tersebut. Sebab barangkali aku terlalu keras terhadap mereka. Kalau sudah begini, pertanyaanku mundur ke belakang, apa pula benar itu? Seperti apa baik itu? Aku harus menjadi manusia yang seperti apa agar terbebas dari melukai dan beban perasaan bersalah? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya berakhir sebagai insomnia. 

 

Perbincanganku kali ini membawaku pada suatu tempat, ketidakpercayaan diri, kesulitan memaafkan diri sendiri, dan terlalu peduli pada hal-hal yang tidak seharusnya dipedulikan. Pada akhirnya, setiap kebaikan perlu diusahakan dan tidak pernah ada kehidupan yang sempurna tanpa cela. 

 B:Memang yang paling bener itu kamu diem saja!

 A: Kek patung dong, ntar 

 B: Malah bagus kan, patung itu tersentuh peristiwa tapi tak terluka. Paling keropos saja! PLAKK!!! 

 

n.b. tulisan ini dimuat setelah melalui perenungan panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpulang pada Cinta yang Hakiki

Jika aku bertanya pada diriku tiga tahun lalu, hal apakah yang paling disukai dari dirinya. Kurasa ia akan mengabiskan waktu satu malam atau bahkan sepekan untuk berkontemplasi mencari-cari secuil hal yang bisa dibanggakan. Hanya untuk kembali disanggah oleh bagian dari dirinya yang lain. Hampir genap satu tahun lalu, diri yang itu ditelan oleh rasa ragu-ragunya sendiri. Hilang arah. Mati dalam kesepian, diliputi mendung yang tidak berkesudahan. Aku sendiri tidak tahu, apakah ia mati lalu tumbuh sebagai benih baru, atau ia belum benar-benar mati lalu hidup kembali. Seperti pasir pantai yang didera ombak, menghapus jejak-jejak yang sia-sia itu ke permulaan: ketiadaan. Satu bulan lalu, atau rasa-rasanya sudah lebih, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak ke kebenaran diri. Penemuan kembali ‘rasa’. Dari aku yang sejak dibangku kuliah mati rasa. Bertahun sejak hari mati rasa hingga satu bulan lalu. Aku ‘merantau’ mencari kembali sesuatu yang hilang itu. Apakah ia terletak di b...

Pascacinta

Pasca mencintaimu, aku ingin memperkenalkan diri dengan benar dan sepantasnya.... Bukan hanya kepadamu, tapi juga kepada dunia.... Wahai hidup dan kehidupan! Perkenalkan namaku Rumik. Manusia biasa. Jenis kelamin: bukan jantan. Tinggi kurang dari 150 cm. Setelah melalui perebusan hidup kupikir aku adalah makhluk betina yang ceria. Aku adalah abstrak yang akan sulit dijelaskan. Sifatku sangat impulsif, siapapun tidak dapat menebak pergerakanku. Semua tindakanku tidak didasarkan pada logika, murni pencerahan dari hati. Logika adalah baju seragam yang digunakan hampir semua manusia dibumi. Aku tidak suka menyeragamkan diri. Aku lebih suka memilih warnaku sendiri. Aku pemberontak sejati. Tidak suka aturan, tapi sangat menikmati keteraturan.  Kemarin dalam episode hidupku yang kuberi judul ‘ Perihal Cinta ’, aku dengan angkuh melepas baju cinta tanpa berpikir panjang. Bahwa mungkin sebagian besar pembacaku akan lari, karena yang mereka nantikan adalah romantisme cinta da...

Uret

  Pada suatu sore yang sendu, badannya yang renta tergeletak tak berdaya. Separuh tubuhnya mati. Meski obat dari dokter sudah di minum dua kali badannya belum pulih lagi. Datang si sulung, sepulang kerja menghadap, duduk di sampingnya dengan lembut menanggapi, “Pak, bapak, apa yang menjadi beban pikirmu, hingga darah tinggimu kumat begitu?” Ia mengulum senyum. “Mikir apa, Nduk. Memang darah tingginya sedang kumat saja.” Mbah Sono menutup kalimatnya dengan sesimpul senyum. Di balik sesimpul senyum itu pikirannya terbang ke masa lalu. ***             Ia hidup di daerah sekitar Solo Raya, Wonogiri tepatnya. Istrinya sehari-hari berjualan di pasar, sedangkan ia sendiri menggarap ladang yang luas dan hasil panennya tak seberapa. Di daerah ini, sudah menjadi hal umum bila perekonomian digerakkan kaum perempuan, sebab merekalah tulang punggung utama. Hasil dari berjualan nasi di pasar itu lebih banyak menghasilkan uang ketimbang...