Langsung ke konten utama

Postingan

Uret

  Pada suatu sore yang sendu, badannya yang renta tergeletak tak berdaya. Separuh tubuhnya mati. Meski obat dari dokter sudah di minum dua kali badannya belum pulih lagi. Datang si sulung, sepulang kerja menghadap, duduk di sampingnya dengan lembut menanggapi, “Pak, bapak, apa yang menjadi beban pikirmu, hingga darah tinggimu kumat begitu?” Ia mengulum senyum. “Mikir apa, Nduk. Memang darah tingginya sedang kumat saja.” Mbah Sono menutup kalimatnya dengan sesimpul senyum. Di balik sesimpul senyum itu pikirannya terbang ke masa lalu. ***             Ia hidup di daerah sekitar Solo Raya, Wonogiri tepatnya. Istrinya sehari-hari berjualan di pasar, sedangkan ia sendiri menggarap ladang yang luas dan hasil panennya tak seberapa. Di daerah ini, sudah menjadi hal umum bila perekonomian digerakkan kaum perempuan, sebab merekalah tulang punggung utama. Hasil dari berjualan nasi di pasar itu lebih banyak menghasilkan uang ketimbang...

Malam

Mengapa malam terasa sebegini gelap. Saya takut! Saya merasa begitu kerdil. Tanpa kebanggaan, tanpa rasa cinta, tanpa gairah hidup. Saya merasa menjadi malam yang gelap sempurna. Gelap pekat yang membuat saya tersesat. Detik mengalir, waktu berpindah, orang lain begitu hebat, begitu yakin dengan dirinya. Saya tersendat, kehilangan percaya diri dan ingin lari. Saya menginginkan jeda,tapi waktu tidak bisa ditawar. Orang-orang terus berlari dan saya kepayahan mengejar. Mau mati rasanya. Sejak kapan ada aturan bahwa saya harus menyamai speed mereka. Saya mulai kehilangan kendali, mengurangi kecepatan agar tidak tersungkur. Tapi orang bilang saya terlalu malas dan kurang usaha. Saya mau berhenti saja. Biar orang bisa bebas membenci dan menghujat. Saya tidak perlu merasa tersinggung. Memang saya tidak berusaha. Saya merasa rapuh. Langkah-langkah ke depan, apakah membawa saya pada bukit berbunga atau jurang penuh ular, saya tak tau. Saya sedang tidak yakin: apa yang sebenarnya say...

Perihal Menangis

Saya heran pada diri sendiri, saya ini wanita tapi sulit sekali mengeluarkan air mata alias menangis. Orang bilang wanita itu dapurnya air mata, cengeng, gampang sekali meneteskan air mata. Tapi kok saya tidak. Saya masih ingat sekali, dulu saat anak lain dengan mudah menangis karena jatuh dari sepeda, atau karena kalah dalam permainan, saya tidak bisa menangis karena hal-hal itu. Mungkin alasannya karena ketika saya jatuh anak lain yang bersama saya akan tertawa, dan saya paling benci hal itu. Bagi saya itu penghinaan. Iya saya kecil dulu sudah berpikir begitu. Maka dari itu saya memilih untuk tidak menangis. Menangis adalah sebuah kecerobohan dalam berekspresi. Sepanjang ingatan saya — setelah saya tahu bahwa emosi harus dikendalikan, saya hanya pernah menangis di depan orang lain ketika saya jatuh dari sepeda sewaktu saya kecil dimana bibir saya sobek dan kaki saya tersangkut di ruji sepeda. Ketika ayah saya menasihati saya sewaktu SMP karena nilai saya anjlok--yang ini ...