Langsung ke konten utama

Pelajaran Membenci

Semenjak saya tahu jika 2 ditambah 2 bisa jadi lima saya mulai belajar tentang segala kemungkinan dalam hidup. Saya tak lagi melihat hanya dengan dua mata tapi enam mata. Saya belajar bahwa kebenaran tidak hanya dinilai dari hitam dan putihnya. Ada banyak warna lain yang saya sendiri juga bingung akan dinilai dan dimaknai sebagai apa.

Semenjak saya tau jika 2 ditambah 2 bisa jadi sepuluh, indera pendengar dan perasa saya bekerja puluhan kali lebih sensitif dan entah kenapa segala perkataan baik terdengar lebih menyakitkan. Akhir-akhir ini saya lebih menyukai perkataan kotor dengan segala kebrengsekannya dan kejujurannya yang kelewat batas. Ah, andaikan saja. Kata-kata bijak dan segala hal yang mencoba mengungkapkan bahwa segalanya akan baik-baik saja, sabar saja, semua akan indah pada waktunya dan bla-bla-bla. Hei, coba lihat dan dengar sekali lagi, kalimat khayali seperti itu lebih terdengar seperti lagu nina bobo yang sengaja dinyanyikan untuk sejenak lupa dari realitas dan kepenatan berpikir.

            Semenjak saya tahu bahwa kalimat tanya seperti, “Habis tidur siang ya?” tidak sesederhana kedengarannya. Saya mulai berpikir jangan-jangan kalimat-kalimat lain juga begitu. Jangan-jangan ada maksud lain dibalik perkataan seperti;

“Gapapa, santai aja!”

“Kamu udah bekerja keras kok!”

“Gapapa biar aku aja!”

Saya jadi teringat kalimat curhatan ibu tentang bapak. Tentang bagaimana mereka akhirnya bisa menikah dan melahirkan orang macam saya. Tidak ada yang lebih melukai hati selain kenyataan bahwa diam-diam ibu menyesal telah menikah. Dan saya yang diam-diam merasa bersalah telah ditakdirkan untuk lahir. Mungkin jika saya tak ditakdirkan untuk lahir ibu saya tak akan menikah dengan bapak saya.

Sejak saya melihat ibu saya tak pernah lagi berbincang hangat dengan adiknya di suatu pagi, saya tahu bahwa variabel di dunia ini tidak terbatas. Saya jadi terbiasa mendengar orang mencaci seperti memuji, saya jadi terbiasa melihat orang-orang terlihat begitu akrab padahal di belakang mereka saling membenci. Saya menjadi sangat terbiasa melihat orang lain berpura-pura ceria padahal di balik itu semua mereka menyimpan cerita duka dan masih sering menangis sendirian. Saya tahu itu semua. Dan saya membencinya.

            Saya membenci kenyataan bahwa saya bagian dari orang-orang ini. Bahwa saya hidup di tengah-tengah mereka. Bahwa saya juga turut mengenakan topeng yang sama. Saya membenci diri saya karena saya hanya diam, karena saya begitu pengecut hingga tak mampu melakukan apapun. Saya membenci diri saya sendiri sebab hingga akhir saya tak menemukan sesuatu yang dapat dibenci selain diri sendiri. Saya tak menemukan hal lain yang bisa disalahkan selain diri saya sendiri.

Ketika kebencian saya ini sampai pada puncaknya, saya baru mulai berpikir jangan-jangan selama ini sebenarnya saya membenci untuk melindungi diri saya sendiri. Jangan-jangan sebenarnya saya membenci hanya untuk melindungi diri saya dari prasangka-prasangka baik yang terlalu naif. Dari memalukannya terlalu percaya pada orang lain. Atau jangan-jangan saya membenci untuk menyembunyikan luka, tentang seberapa kecewanya saya terhadap seseorang, tentang seberapa naifnya saya mengartikan muka-muka bertopeng itu. 

Pada akhirnya saya tau, saya hanya membenci diri saya sendiri. Tak pernah orang lain. Itu hanya alibi yang mungkin saya buat-buat. Bahwa saya hanya sedang kecewa pada diri saya sendiri yang belum kuat, yang masih sering rapuh dan goyah. Bahwa saya sendiri belum memiliki cukup nyali untuk membenci orang lain. Mungkin karena itu pada akhirnya saya memilih untuk bersikap peduli atau mungkin sebenarnya belajar bersikap munafik?

.

.

.

“Wah, pelik juga hidup kau! Sehabis bikin pengakuan kini bilang benci segalanya.”

“Hemm. Kan hidup memang begitu, suka ngajak bercanda dengan cara yang tidak lucu.”

“Ahh.. bukan tidak lucu. Selera humormu saja yang kurang berkualitas!”

“....”


Minggu, 27 Oktober 2019
21:20
Ditulis di sebuah tempat di mana segala hal bermula.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpulang pada Cinta yang Hakiki

Jika aku bertanya pada diriku tiga tahun lalu, hal apakah yang paling disukai dari dirinya. Kurasa ia akan mengabiskan waktu satu malam atau bahkan sepekan untuk berkontemplasi mencari-cari secuil hal yang bisa dibanggakan. Hanya untuk kembali disanggah oleh bagian dari dirinya yang lain. Hampir genap satu tahun lalu, diri yang itu ditelan oleh rasa ragu-ragunya sendiri. Hilang arah. Mati dalam kesepian, diliputi mendung yang tidak berkesudahan. Aku sendiri tidak tahu, apakah ia mati lalu tumbuh sebagai benih baru, atau ia belum benar-benar mati lalu hidup kembali. Seperti pasir pantai yang didera ombak, menghapus jejak-jejak yang sia-sia itu ke permulaan: ketiadaan. Satu bulan lalu, atau rasa-rasanya sudah lebih, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak ke kebenaran diri. Penemuan kembali ‘rasa’. Dari aku yang sejak dibangku kuliah mati rasa. Bertahun sejak hari mati rasa hingga satu bulan lalu. Aku ‘merantau’ mencari kembali sesuatu yang hilang itu. Apakah ia terletak di b...

Pascacinta

Pasca mencintaimu, aku ingin memperkenalkan diri dengan benar dan sepantasnya.... Bukan hanya kepadamu, tapi juga kepada dunia.... Wahai hidup dan kehidupan! Perkenalkan namaku Rumik. Manusia biasa. Jenis kelamin: bukan jantan. Tinggi kurang dari 150 cm. Setelah melalui perebusan hidup kupikir aku adalah makhluk betina yang ceria. Aku adalah abstrak yang akan sulit dijelaskan. Sifatku sangat impulsif, siapapun tidak dapat menebak pergerakanku. Semua tindakanku tidak didasarkan pada logika, murni pencerahan dari hati. Logika adalah baju seragam yang digunakan hampir semua manusia dibumi. Aku tidak suka menyeragamkan diri. Aku lebih suka memilih warnaku sendiri. Aku pemberontak sejati. Tidak suka aturan, tapi sangat menikmati keteraturan.  Kemarin dalam episode hidupku yang kuberi judul ‘ Perihal Cinta ’, aku dengan angkuh melepas baju cinta tanpa berpikir panjang. Bahwa mungkin sebagian besar pembacaku akan lari, karena yang mereka nantikan adalah romantisme cinta da...

Uret

  Pada suatu sore yang sendu, badannya yang renta tergeletak tak berdaya. Separuh tubuhnya mati. Meski obat dari dokter sudah di minum dua kali badannya belum pulih lagi. Datang si sulung, sepulang kerja menghadap, duduk di sampingnya dengan lembut menanggapi, “Pak, bapak, apa yang menjadi beban pikirmu, hingga darah tinggimu kumat begitu?” Ia mengulum senyum. “Mikir apa, Nduk. Memang darah tingginya sedang kumat saja.” Mbah Sono menutup kalimatnya dengan sesimpul senyum. Di balik sesimpul senyum itu pikirannya terbang ke masa lalu. ***             Ia hidup di daerah sekitar Solo Raya, Wonogiri tepatnya. Istrinya sehari-hari berjualan di pasar, sedangkan ia sendiri menggarap ladang yang luas dan hasil panennya tak seberapa. Di daerah ini, sudah menjadi hal umum bila perekonomian digerakkan kaum perempuan, sebab merekalah tulang punggung utama. Hasil dari berjualan nasi di pasar itu lebih banyak menghasilkan uang ketimbang...